IlmuKebenaran

Mengetahui Kedudukan Ulama dan Memuliakannya

Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap seratus tahun, Allah mengutus kepada umat ini seseorang yang akan memperbaharui diin ini (dari penyimpangan)”.i

Dalam Al Quran Allah ﷻ berfirman:

[QS 58:11] “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”.

Setiap seratus tahun hijriah, Allah akan menjadikan seorang mujaddid yang memperbaharui kebenaran pemahaman Islam serta membersihkannya dari penyimpangan yang terjadi di setiap zaman. Sebagian para mujaddid ini lahir dan hidup di setiap 100 tahun Hijriah. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz (abad ke-1 H), Imam Syafi’i (abad ke-2 H), Imam Ghazali (abad ke-5 H), Ibnu Taimiyah (abad ke-7 H), Ibnu Hajar al Atsqalani (abad ke-8 H), Muhammad bin Abdul Wahhab (abad ke-12 H), Muhammad Abduh (abad ke-13 H), dan lainnyaii.

Ulama adalah pewaris para Nabi. Untuk mendapat gelar al Hafizh saja harus menghafalkan Al Quran dan 200.000 hadits secara mutqin (benar-benar hafal tanpa terbata-bata), serta menguasai bahasa Arab secara fasih. Setiap ulama terdahulu memiliki ratusan guru dan memiliki sistem kontrol keabsahan ilmu yang kuat. Oleh karena itu tidak mungkin kita mengkaji ayat dan hadits tanpa menelusuri pendapat para ulama, terutama para ulama mujaddid ini.

Kebenaran tidak akan didapatkan jika malah menganggap ulama rujukan umat Islam adalah Ahli Kitab. Tidak ada dalil ayat, hadits, dan perkataan para shahabat yang mendukung pendapat bahwa Ahli Kitab adalah Ulama.

Sehingga dalam tulisan-tulisan selanjutnya penulis merujuk kepada tulisan dan pendapat beberapa ulama mujaddid tersebut.

REFERENSI

i Hadits Shahih Riwayat Abu Daud no. 3470, diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

ii Sebagian nama Mujaddid tersebut dapat diakses di https://en.wikipedia.org/wiki/Mujaddid


Support Da’wah dan Kontak Kami di:

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button