BaiatJamaahKepemimpinan

Apakah Jama’ah itu Penting dan Urgent?

[QS 3:103] Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulubermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
[QS 3:105] Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.
[QS 30:30-32] Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada diin; (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) diin yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah diin mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.


Rasulullah ﷺ bersabda, “Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum dan yang terakhir adalah shalat.”1

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; orang tua yang berzina, membunuh jiwa (qisas) dan keluar dari Islam (murtad) yang memisahkan diri dari jama’ah (jama’ah muslimin).”2

Hudaifah bin Al Yaman berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang perkara-perkara kebaikan sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku takut akan menimpaku. Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada pada masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?”. Beliau menjawab: “Ya”. Aku bertanya lagi; “Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?”. Beliau menjawab: “Ya, akan tetapi di dalamnya ada “dukhn” (kotorannya) “. Aku bertanya lagi; “Apa kotorannya itu?”. Beliau menjawab: “Yaitu suatu kaum yang memimpin tanpa mengikuti petunjukku, kamu mengenalnya tapi sekaligus kamu ingkari”. Aku kembali bertanya; “Apakah setelah kebaikan (yang ada kotorannya itu) akan timbul lagi keburukan?”. Beliau menjawab: “Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke pintu jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan kedalamnya”. Aku kembali bertanya; “Wahai Rasulullah, berikan sifat-sifat (ciri-ciri) mereka kepada kami?”. Beliau menjelaskan: “Mereka itu berasal dari kulit-kulit kalian dan berbicara dengan bahasa kalian“. Aku katakan; “Apa yang baginda perintahkan kepadaku bila aku menemui (zaman) keburukan itu?”. Beliau menjawab: “Kamu tetap berpegang kepada jama’atul miuslimin dan pemimpin mereka”. Aku kembali berkata; “Jika saat itu tidak ada jama’atul muslimin dan juga tidak ada pemimpin (Islam)?”. Beliau menjawab: “Kamu tinggalkan seluruh firqah (kelompok/golongan) sekalipun kamu harus memakan akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap berada di dalam keadaan itu (berpegang kepada kebenaran) “.3

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa membaiat seorang imam, ia jabat tangannya dan menyerahkan keikhlasan hatinya (untuk setia), maka hendaklah ia berikan hak ketaatan padanya semampu mungkin. Jika ada pihak lain yang ingin mengambil kekuasaannya hendaklah ia penggal lehernya. Aku (perawi) bertanya, “Apakah engkau benar-benar mendengarnya dari Rasulullah ﷺ?” Abdullah bin Amru menjawab: “Kedua telingaku mendengarnya dan hatiku mengingatnya.” Aku berkata, “Sepupumu ini (Mu’awiyah), memerintahkan kami untuk melakukan begini dan begini?” ia menjawab, “Taatilah ia dalam ketaatan kepada Allah, dan ingkarilah dalam kemaksiatan kepada-Nya.”4

Nabi ﷺ pernah berkata kepada Abu Dzar: “Dengar dan taatlah sekalipun terhadap seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah anggur kering.”5


Baca juga: Adakah Jama’atul Muslimin di Dunia saat ini?


Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku dan barang siapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya imam (pemimpin) adalah laksana benteng, dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa”.6

Rasulullah ﷺ bersabda: “Mendengar dan ta’at adalah wajib atas setiap Muslim baik dalam perkara yang ia sukai atau pun yang ia benci kecuali jika diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat, tidak ada (kewajiban) mendengar dan tidak pula taat.”7

Nabi ﷺ mengutus sekelompok pasukan dengan mengangkat salah seorang dari Anshar sebagai komandan. Beliau memerintahkan mereka untuk ta’at dan mendengar. Ternyata mereka membuat komandan tersebut marah karena suatu hal, maka dia berkata; “Kumpulkan kayu bakar!” lantas mereka mengumpulkannya, lalu komandan itu berkata; “Nyalakan api.” Merekapun menyalakan api, Kemudian dia berkata; “Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan untuk mendengarku dan menaati.” Mereka menjawab; “Ya.” Dia berkata; “Masuklah ke dalam api!” maka sebagian orang melihat ke yang lainnya, mereka berkata; “Kita lari kepada Rasulullah ﷺ karena api tersebut.” Mereka dalam keadaan demikian sampai hilang rasa marahnya sampai api itu padam. Ali ra. berkata; Tatkala mereka sampai kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan hal itu, beliau bersabda: “Kalau saja mereka memasukinya niscaya mereka tidak akan keluar darinya. Sesungguhnya ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf’.”8

Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang akan menjadikan hati tenang dan kulit serasa lembut, kemudian akan muncul kepada kalian pemimpin-pemimpin yang menjadikan hati gemetar dan kulit merinding.” Para sahabat berkata; “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh membunuhnya?” beliau bersabda: “Jangan, selama ia masih mengerjakan shalat.”9

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.”10

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa keluar dari keta’atan dan memisahkan diri dari Jama’ah kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Barangsiapa terbunuh di bawah bendera kefanatikan, balas dendam karena kefanatikan, dan berperang karena kebangsaan, maka dia tidak termasuk dari ummatku. Dan barangsiapa keluar dari ummatku lalu (menyerang) ummatku dan membunuh orang yang baik maupun yang fajir, dan tidak memperdulikan orang mukminnya serta tidak pernah mengindahkan janji yang telah dibuatnya, maka dia tidak termasuk dari golonganku.11

مَنْ نَزَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ فَلَا حُجَّةَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ مَاتَ مُفَارِقًا لِلْجَمَاعَةِ فَقَدْ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa mencabut tangannya dari ketaatan, maka tidak ada hujjah baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia telah keluar dari jamaah (kaum muslimin), maka sesungguhnya ia telah meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah”.12

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.”13

Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang berbai’at kepada seorang pemimpin (penguasa) lalu dia memenuhi bai’atnya dengan sepenuh hati, hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika yang lain datang memberontak, penggallah lehernya.14

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa berlepas diri dari Al Jama’ah (pemerintahan Islam) meskipun hanya satu jengkal, berarti ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya.”15

Nabi ﷺ bersabda; “Siapapun yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tak disukainya, hendaklah ia bersabar terhadapnya, sebab siapa yang memisahkan diri sejengkal dari jama’ah, kecuali dia mati dalam jahiliyah.”16


Baca juga: Sibuk Menghakimi Niat

Baca juga: Bukti bahwa Neo-NII bukanlah jama’ah Islam, apalagi Jama’ah yang Haq


REFERENSI

1 Hadits riwayat Ahmad no. 21139, Al Hakim menilainya shahih. Derajat keshahihan diperoleh dari buku Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, “Menuju Jama’atul Muslimin”. Rabbani Press, halaman 17

2 Hadits shahih riwayat Abu Daud no. 3788, Bukhari no. 6370, Muslim no. 3175, Tirmidzi no. 1322. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

3 Hadits shahih riwayat Bukhari no. 3338 atau no. 3606 versi Fathul Bari. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

4Hadits shahih riwayat Abu Daud no. 3707. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

5 Hadits shahih riwayat Bukhari no. 655, atau no. 696 versi Fathul Bari. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

6 Hadits shahih riwayat Bukhari no. 2737, atau no. 2957 versi Fathul Bari. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

7 Hadits shahih Bukhari no. 6611, Shahih Muslim no. 3423, Shahih Abu Daud no. 2257, Shahih Tirmidzi no. 1629, Shahih Nasa’i no. 4135, Shahih Ibnu Majah no. 2855. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

8 Hadits shahih Ahmad no. 969, Bukhari no. 3995 dan no. 6612, riwayat Muslim no. 3425, riwayat Abu Daud no. 2256. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

9 Musnad Ahmad no. 10801. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

10 Hadits shahih riwayat Ibnu Majah no. 3982. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

11 Hadits shahih riwayat Muslim no. 3437. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

12 Hadits riwayat Ahmad no. 5130. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

13 Hadits shahih Muslim no. 3441. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

14 Hadits shahih riwayat Ahmad no. 6214. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

15 Hadits riwayat Ahmad no. 20580. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.

16 Hadits riwayat Bukhari no. 6531. Diakses melalui aplikasi Ensiklopedi Hadits.


Support Da’wah dan Kontak Kami di:

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button